BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Rabu, 03 Maret 2010

Pulau Bidadari


Pagi itu panas matahari belum begitu terik, namun kesibukan di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol sudah terlihat. Antrean orang yang akan naik kapal cepat ke berbagai pulau di gugusan Pulau Seribu sudah mulai bersiap-siap naik ke perahu masing-masing. Pak Nur ( 41 ), Kapten kapal cepat yang akan menuju P.Bidadari juga terlihat berdiri diatas kapal untuk melihat kesiapan kapal yang akan dikemudikannya.
Jika ingin pergi ke berbagai gugusan Kepulauan Seribu gampang saja, datang saja ke Pantai Marina Ancol. Di situ anda tinggal beli tiket kapal, kemudian memilih tujuan, menunggu sebentar dan berangkat. Salah satu service yang disediakan adalah berlayar menuju Pulau Bidadari, salah satu gugusan Kepulauan Seribu yang terdekat dengan Jakarta. Rute Marina – P.Bidadari tersedia tiap hari, dimana keberangkatan kapal jam sembilan pagi dan kepulangannya jam tiga sore.

Kalau hari libur atau Sabtu & Minggu kapal tetap berangkat jam sembilan pagi, namun jam kepulangan menjadi dua kali, jam dua dan jam empat sore. Harga tiket juga berbeda, hari biasa adalah Rp 160,000 ,- per orang sedangkan hari libur adalah Rp 200,000 / orang. Selain tiket pulang dan pergi, harga tiket tersebut termasuk welcome drink dan makan siang di restoran P.Bidadari.

Setelah menunggu beberapa saat di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol, petugas kapal mempersilahkan penumpang untuk masuk. Sesaat kemudian kapal yang kami tumpangi berputar, maju pelan-pelan dan mulai membelah lautan. Makin lama kecepatan kapal makin betambah, hingga para penumpang yang berada di dalamnya terasa diayun-ayun dan digoyang-goyang. Walaupun begitu para penumang tetap berasa aman di dalamnya, karena kapalnya lumayan besar dan tertutup, sehingga cipratan air tidak masuk ke dalam. Ruangan kapal juga relatif bersih dan nyaman. Susunan tempat duduknya juga asyik, kursi busa dengan posisi tiga kursi samping kanan dan tiga kursi samping kiri yang dipisahkan oleh jalan di tengahnya. Tak begitu lama, kurang lebih hanya dua puluh menit di atas kapal, rimbunan dedaunan Pulau Bidadari sudah kelihatan, dan merapalah kapal yang kami tumpangi di dermaga kayu pulau tersebut.

Patung Sang Tanduk Tujuh Belas yang sedang mengangkat kakinya menyambut kedatangan para pengunjung. Bahkan sambutan tersebut disertai dengan bunyi puisi yang tertulis di bawah patung yang berbunyi sebagai berikut,”Singa Beraung dihutan-hutan, Hiu berteriak, Aku raja dilautan, Dan rajawali, Bebas terbang tinggi di awan – Disini Sang Tanduk Tujuh Belas, Akrab berbisik, Kepada para wisatawan, Saya hanyalah penjaga kepulauan – Cinta persahabatan, Cinta perdamaian, Cinta ketenangan, Dan cinta keindahan”. Merenung sejenak setelah membaca pusisi tersebut, welcome drink pun siap sedia diatas meja yang terletak di samping meja resepsionis. Di pintu masuk terdapat beberapa petugas yang sudah siap sedia melayani segala keperluan para pengunjung. Pemandu wisata juga tersedia bagi para pengunjung yang ingin penjelasan detail tentang P.Bidadari.

Karena ingin lebih bebas menikmati asrinya pulau, kami pun memutuskan untuk mengelilingi Pulau Bidadari tanpa menggunakan pemandu. Toh sudah tersedia juga brosur yang lumayan lengkap yang berisi tentang pulau ini. Mengitari pulau berlawanan arah dengan jarum jam, kami melintasi bungalow-bungalow yang tidak begitu besar, namun terlihat teduh dan asri. Karena hampir di setiap sudut daratan pulau ini tumbuh pohon Keben dan beberapa pohon lain yang terlihat sangat subur. Terus berjalan ke dalam kita akan menemukan Benteng yng sudah rusak, namun masih terlihat sisa-sisa keperkasaannya. Bangunan yang berfungsi sebagai menara pengawas dan benteng di Pulau Bidadari ini berbentuk bundar dengan garis tengah 23 meter da tebal dinding 2,50 meter. Pada dinding ini terdapat deretan jendela-jendela besar dan kecil. Pada bagian dalam bangunan ini terdapat tujuh ruangan lantai dasar yang dipisah-pisahkan dengan skat tembok bata.

Salah satu ruangan yag tertutup berfungsi sebagai tempat penyimpanan amunisi. Pada bagian tengahnya terdapat sebuah dinding lingkaran lagi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bersih untuk keperluan minum dan memasak bagi para tentara yang sedang berjaga. Sebelum dilakukan penggalian arkeologi, bangunan menara pengawas di Pulau Bidadari ini tidak terlihat wujudnya sebab seluruh permukaan bangunan tertimbun oleh puing-puing dan ditumbuhi oleh pohon-pohon besar serta ilalang. Namu setelah dilakukan penelitian dan penggalian oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, akhirnya dapat diperlihatkan wujud dari sisa-sisa bangunan menara tersebut. Menara pengawas ini bertingkat dua, hal ini dibuktikan dengan adanya lubang-lubang penyangga balok lantai. Ruangan-ruangan pada lantai dua ada tujuh buah. Kemungkinan ruangan dilantai dua ini berfungsi sebagai ruangan tidur sekaligus tempat pengintaian.

Bentuk bangunan menara pengawas ini di Eropa lebih dikenal dengan sebutan Menara Martello. Yang pertama kali diperkenalkan oleh Perancis, atau tepatnya d pulau Corsica pada abad 18. Ketika terjadi pemberontakan di pulau tersebut pada tahun 1794, mereka meminta bantuan Inggris untuk membantu menyerang. Namun untuk menaklukan Corsica, Inggris kewalahan merebut benteng menara di Martello Point yang menjaga pintu masuk teluk Fiorenzo. Benteng itu cukup ampuh dalam pertahanan, sehingga sekembalinya dari perang, Inggris mendirikan bangunan yang sama di negaranya. Kemudian bangunan ini tidak saja ditiru oleh Inggris melainkan juga Belanda. Tak heran jika Belanda mendirikan pula menara Martello di negeri jajahan seperti Indonesia sebagai bagian dari sistim pertahanannya. Dan salah satunya didirikan di Pulau Bidadari yang bekasnya masih bisa kita lihat sampai sekarang. Disamping itu ada benteng yang setipe dengan Martello yang terletak disebelah utara Pulau Bidadari. Bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kurang lebih sepuluh menit.

Di sebelah utara benteng merupakan sisi pantai utara sebagai batas Pulau Bidadari bagian utara. Pantainya terlihat lebih bersih dan lebih bening dibanding dengan pantai sisi selatan. Hal ini dikarenakan pantai utara tidak berhadapan langsung teluk Jakarta yang sudah banyak tercemar. Beberapa tempat duduk kecil yang menghadap pantai tersedia disisi pantai. Duduk-duduk dikursi tersebut sambil melihat pemandangan laut biru, diterpa angin laut yang sepoi-sepoi merupakan hal yang sangat menyenangkan. Setelah puas mengelilingi pulau ini, senang, segar, capai dan rasa lapar bercampur jadi satu. Maka dari itu bersiaplah untuk menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh restaurant dengan menukarkan voucher yang kita dapatkan ketika membeli tiket kapal. Menu yang tidak mewah, namun juga tidak bisa dikatakan sederhana, nasi dan lauk pauk lengkap serta hidangan penutup betul-betul menjadi pengobat rasa lapar yang ada.

Karena restoran yang langsung berhadapan dengan pantai, asyik sekali makan sambil menatap laut, mendengar ombak yang mendayu-dayu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat ketika berada di pulau ini, kapal penjemput sudah siap di dermaga, satu per satu penumpang naik dan kami kembali ke dermaga 17.

Penulis : AMGD
Lokasi : Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Kota Jakarta Utara
Fotografer : AMGD
Sumber : Navigasi.Net

Rabu, 24 Februari 2010

Kepulauan Riau


Provinsi Kepulauan Riau merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali. Jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2005. Objek wisata di Provinsi Kepulauan Riau antara lain adalah wisata pantai yang terletak di berbagai kabupaten dan kota. Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa di kota Batam, Pantai Pelawan di Kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora, dan Bintan Leisure Park di kabupaten Bintan. Kabupaten Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling.

Selain wisata pantai dan bahari, provinsi Kepulauan Riau juga memiliki objek wisata lainnya seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event-event khas daerah. Di kota Tanjungpinang terdapat pulau Penyengat sebagai pulau bersejarah karena di pulau ini terdapat masjid bersejarah dan makam-makam Raja Haji Fisabililah dan Raja Ali Haji yang kedua-duanya adalah pahlawan nasional.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau


Rabu, 17 Februari 2010

Wisata Kepulauan Seribu

Pulau Seribu merupakan kepariwisataan bahari yang berlokasi di Kabupaten administrasi provinsi DKI Jakarta dan sekaligus menjadi zona konserfasi berupa taman nasional laut yang bernama Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, dengan jumlah penduduk lebih kurang 20.000 jiwa yang tersebar di sebelas pulau – pulau kecil berpenghuni, diantaranya Pulau Untung Jawa , Pulau Pari , Pulau Lancang , Pulau Tidung besar , Pulau Tidung Kecil , Pulau Pramuka , Pulau Panggang , Pulau Harapan , Pulau Kelapa dan Pulau Sebira.
Selain pulau – pulau berpenghuni , terdapat pula beberapa pulau wisata seperti PULAU SERIBU MARINE RESORT PANTARA – ANTUK BARAT dan ANTUK TIMUR , PULAU PUTRI , PULAU SEPA , PULAU BIRA GOLF RESORT (under renovation) , PULAU PELANGI (under renovation) , PULAU MATAHARI (under renovation) , PULAU MACAN KECIL , PULAU BINTANG , ALAM KOTOK , PULAU BIDADARI , PULAU ONRUST , PULAU EDAM , PULAU RAMBUT , PULAU KELOR , PULAU KAHYANGAN , PULAU AYER.



sumber: http://id.88db.com/Perjalanan-Wisata/Paket-Perjalanan/ad-319175/